Woro-woro!

Banyak orang yang tahu jika aku sangat suka menulis. Tapi setiap kali mereka tanya URL blog-ku apa, aku nggak pernah buka mulut.

Bukannya aku malu atau pelit sampai-sampai nggak mau ngasih tahu. Tapi, ada jiwa lain dari diriku di sini. Ada ekspresiku yang berbeda, yang nggak semua orang tahu. Dan dengan begitu, aku jadi bisa menulis secara lebih personal di sini.

But if you’re my friend, and you have found out about my blog, lucky you!:)

Advertisements

Is This Called Sexism?

Image result for aturan kursi prioritas kereta

http://wow.tribunnews.com/tag/kereta-rel-listrik-krl/?url=2017%2F11%2F30%2Fviral-pria-ini-duduk-di-bangku-prioritas-sedangkan-ada-ibu-gendong-anak-di-depannya-ternyata

 

Saya penasaran. Kenapa bukan tertulis “Orangtua Membawa Anak” saja?

Maksudku, ada kemungkinan kalau yang membawa anak itu bapaknya, kan?

Dan kalau begitu, sebenarnya yang harus diberi kenyamanannya siapa, sih? Sang ibu atau si anak?

Silent Feelings and Thoughts

Imperfect Love

If there is something I need to tell you,

it’s I’m sorry

 

I’m sorry for making you feel lonely and fed up most of the time,

for not being there when I know that you wanted me to

 

But see things through my glasses, honey

You may not see all very well,

because our eyes are not the same

 

or try to wear my shoes,

see whether they fit yours

 

But if they don’t,

no need to buy new glasses or shoes that fit yours, honey

You think that you’ll see things clearer from away and be more comfortable,

but they won’t be suitable for me

 

See things my way, honey,

with my own glasses and shoes

And I’ll see things your way,

with your own glasses and shoes

 

 

Trust me,

with all your head and heart

Vision things through our personal glasses and let’s switch shoes

Take it all so we can share

 

or things will never going work

(PS. This poetry is my best friend’s request.)

Beijing, China

Me trying to wake up early every Monday:

Tapi kamu bisa tebak nggak foto di atas aku ambil di mana? Kalau nggak tahu, aku kasih lebih banyak gambar, deh.

Pasti terbesit kota Beijing kan, di pikiran kamu? Padahal ini di Puncak, haha. Ambience ketika ke lokasi ini benar-benar kayak di Beijing. Banyak merchandise panda, banyak pohon bambu, udaranya dingin, bahkan mereka juga memperhatikan makanan yang tersedia–rata-rata menu makanan dan minuman Cina gitu.

Beberapa waktu yang lalu aku kesana dengan tujuan ingin melihat panda, binatang favoritku, karena Taman Safari Indonesia baru membuka lokasi wisata yang ini. Udaranya dingin sekali dan berkabut, sewaktu wudhu aja rasanya seperti membeku.

Selain panda yang warna hitam-putih itu, kita juga bisa melihat panda merah yang sedang bersender di pohon. Gemas sekali, kalau ingin memotret juga mudah karena jaraknya dekat dengan jalan utama dan lebih jelas karena tidak terhalang oleh kaca. Kalau untuk giant panda-nya hanya ada dua, dan keduanya berada di ruangan kaca yang terpisah.

Menurutku, Istana Panda Taman Safari yang di Bogor ini cukup menarik. Dapat terlihat dengan jelas jika lokasi tersebut memiliki perawatan fasilitas yang baik. Tetapi sayang, saya merasa lokasi ini masih kurang memiliki hiburan dan terkesan kosong, yang membuat saya nggak banyak melihat “wow factor” di destinasi ini. But overall, this is a good place kalau mau liburan dengan cita rasa luar negeri!

My Soul is Forever Tied

38244

Mari kembali ke tahun 2006, di mana untuk pertama kalinya saya menari di atas panggung. Waktu itu, saya masih menginjakkan kaki di kelas 2 SD dan sudah berani tampil untuk wisuda kakak kelas saya. Saya masih ingat betul jika saya tidak menyukai pakaian yang saya gunakan. Pertama, warnanya emas berkilau yang menurut saya norak. Kedua, bahannya gatal luar biasa.

Tari pertama saya adalah Tari Indang. Lagu dalam tarian ini adalah favorit kakek saya, yang dulu kalau jalan-jalan naik mobilnya pasti lagu inilah yang diputar sepanjang perjalanan. Believe it or not, semua momen itu masih terekam jelas dalam ingatan saya, hanya perlu di recall sedikit rinciannya.

Time has gone by so fast, and now here I am, 12 years later, still dancing.

38245

Foto ini masih fresh from the oven waktu saya hendak menampilkan Tari Sirih Kuning. Untung saja ini adalah tarian kedua saya pada hari itu, di mana sebelumnya saya menari tari Jawa. Kalau saja tari Betawi ini ditampilkan terlebih dahulu, saya yakin wajah saya hanya akan penuh dengan keringat, haha. Tari Betawi memang selalu sukses membuat saya merasa sehat.

Until now, dancing has always been my thing, my inner passion.

All are First

Beberapa hari yang lalu aku menikmati kota Jakarta di sore hari dan semuanya serba pertama.

Pertama kalinya aku naik kereta nggak ditemani siapa-siapa. Dari dulu, aku memang buta jalanan Jakarta (hehe, ketauan deh mainnya di Depok terus) dan memang aku nggak ada keberanian buat jalan-jalan naik kereta sendiri, padahal aku suka banget naik kereta. Mulai dari merhatiin ibu-ibu yang lagi bercanda sama anaknya yang ada di pangkuan, melihat bapak-bapak yang saking capeknya hingga tertidur pulas di kursi kereta, bahkan eh, aku mencium salam matahari yang mana nggak sepantasnya aku komentari.

Ini juga pertama kalinya aku–let’s say it’s an internship or volunteer?

Ada kesenangan tersendiri menyebut kata itu. Sebelum kegiatan “berkarya”-ku di mulai, aku diharuskan untuk menghadiri briefing, sekaligus take beberapa video untuk bahan promosi.

Ini pertama kalinya aku masuk ke kantor sebagai tamu, lengkap dengan ID Card perusahaan tersebut. Aku sampai di kantor ini sekitar pukul 15.00 WIB dan belum ada partner-ku sama sekali, which means that I came first. Rasanya deg-deg-an, kayak mau wawancara kerja, padahal enggak. Tapi begitu masuk ruangan ini, aku merasa tenang, kayak lagi di coffee shop saja. Walaupun sepanjang jalan dari Stasiun Sudirman ke kantor ini macetnya nggak kira-kira, tapi semua terbayar oleh ambience ruangannya.

One Pacific Place

Kursi-kursi tersusun rapih dan ruangan masih kosong saat aku masuk. Ada sentuhan lampu-lampu yang bisa dibilang aesthetic. Ruangannya sangat membumi, dengan lantai bercorak batik, sebagian dinding yang menggunakan batu bata, juga ruangan yang dominan berwarna coklat. Belum sampai di situ, di ruangan ini juga ada beberapa macam fasilitas, seperti mesin cetak baju dan billiard yang nggak masuk frame foto ini.

Kantor ini beneran senyaman itu. Apalagi kalau sedang bosan dan melihat ke bawah. Se-mu-a-nya  ter-li-hat  hi-jau. Asri. Di sini juga ada banyak makanan, hehe.

Sewaktu pulang, itu juga kali pertama aku makan bubur ayam malam-malam. Padahal biasanya, aku hanya mengemil. Yang membuatku semakin bahagia ialah ketika kereta ke arah Bogor sangat sepi dan kosong, bahkan aku mampu bergerak dengan bebas. Lagi-lagi, itu adalah naik kereta pulang terlengang yang pernah aku alami. Pertama kali.

A New Step

Beberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya aku belajar pakai Photoshop. And I admit, it was not that easy. Pertama, harus tahu tools yang mau dipakai apa. Kedua, harus tahu cara pakainya bagaimana. Ketiga, kamu punya bakat editing atau nggak, yang sebenarnya bergantung sama selera sih.

Dulu aku pernah tertarik buat belajar Photoshop, Corel Draw, atau Illustrator.  Semuanya karena memang aku pengen belajar desain, supaya nanti kalau punya bisnis aku sudah punya bekal. Aku sempat punya buku-buku terkait aplikasi itu, tapi nyatanya sekadar di baca aja, nggak dipraktikin. Akhirnya, kemampuan editing-ku pun nggak naik-naik. Wong, latihannya saja malas.

Kalau sekarang, aku belajar Photoshop karena di akhir semester kemarin harus memilih peminatan di jurusan dan di antara pilihan yang ada, aku mengambil periklanan. Photoshop atau sejenisnya akan diperlukan di semester esok sebab ada mata kuliah Pengantar Desain Kreatif Periklanan. Akibatnya, aku mau nggak mau harus belajar desain grafis dong. Pilihannya tinggal aku mau ngos-ngosan belajar editing ini pas berlangsungnya semester atau disiapin sebelum masuk. And I chose to learn it now, before the term starts.

Aku minta tolong temanku untuk ngajarin, dan katanya, aku “oke-oke” saja selama dijelasin, hahaha. Setelah itu, aku diminta untuk membuat poster dengan perbandingan 1:1 and I literally have no idea how. Setelah setengah jam berkutat depan laptop yang sudah semakin panas, aku pun selesai dan hasilnya begini.

output-0

Untuk percobaan pertama, kupikir ini lumayan. Tapi tolong jangan sandingkan dengan milik mereka yang sudah expert ya hahaha, aku pasti kalah telak.

цветы

1.jpg

"Happiness radiates like the fragrance from a flower and draws all good things towards you." - Maharishi Mahesh Yogi

Kalau dalam Bahasa Rusia, цветы (tsvety) artinya bunga. Sama kayak namaku. Bedanya, namaku berasal dari Bahasa Sansekerta, ya lebih lokal gitu.

Dari dulu aku selalu suka bunga, walaupun nggak pintar-pintar amat merawatnya, tapi aku bisa milih bunga yang bagus. Kalau disuruh pilih satu jenis bunga yang aku suka, aku selalu suka sama Hydrangea. Cantik dan banyak yang nggak tahu. Beda lagi sama mawar, yang udah jadi andalan banyak orang. Walaupun begitu, tetap saja yang dapat bouquet-nya bakal klepek-klepek, yang mana juga terjadi padaku hahaha.

12 hari yang lalu, aku dapat bunga se-bouquet besar yang bikin aku nggak bisa ngomong apa-apa. Isinya juga macem-macem. Nggak cuma berisi mawar aja, tapi ada anggrek dan tulip, juga bunga-bunga lainnya. Semua bunganya awet sampai kurang lebih seminggu, dan bahkan mawar putihnya sampai sekarang masih segar.

2

They were all very pretty.

Aku suka kombinasi warnanya. Banyak warna manisnya, kayak pink, merah, ungu, peach, tapi juga diimbangi sama warna bumi, hijau dan kuning. Segar aja lihatnya. Makanya, kamu nggak bakal tahu gimana rasanya waktu aku dapat ini. Pagi-pagi sudah senyum-senyum, mungkin hingga dikira aneh kali ya sama yang antar paket.

Kalau kata Marshall McLuhan, the medium is the message. Dia ngirimin aku kartu ucapan, tapi ada dampak yang terjadi padaku. Pasti maknanya beda kan kalau misalnya aku dikirimin kartu ucapan tanpa apa-apa dengan cara seperti ini? Itu maksudku. Ditambah lagi, pesan yang tertulis di kartu ucapan  terdengar sangat menyentuh bagiku. It feels so personal and warm. And it makes me happy.

Ada usaha yang dia kasih buat menyampaikan “selamat ulang tahun”. Thank you.